Catherine The Great merupakan sosok wanita paling berpengaruh selama tiga dekade dalam kekaisaran Rusia. Sosok perempuan ini pasti pernah Anda lihat, salah satunya dari media sosial secara sekilas.
Terkenal memiliki julukan Catherine II, sebenarnya nama semasa kecilnya adalah Sophie Friederike Auguste von Anhalt-Zerbst. Dirinya lahir pada 2 Mei 1729 di Stettin Poland dan meninggal pada tanggal 17 November 1976 di Tsarskoye Selo, Rusia.
Untuk mengetahui perjalanan Catherine The Great dari masa kecil sampai berhasil memimpin kekaisaran Rusia, Anda bisa simak informasinya berikut.
Anak Perempuan yang Sering Ditelantarkan oleh Ibunya

Sophie (nama masa kecil Catherine) terlahir sebagai putri seorang pangeran yang tidak terpandang bernama Christian August von Anhalt-Zerbst. Ibunya adalah seorang wanita ambisius bernama Joanna Elisabeth of Holstein-Gottorp. Sang ibu selalu tidak merasa puas dengan kehidupannya, mungkin karena dirinya dinikahkan saat berusia 15 tahun dengan bangsawan miskin (ayah Sophie) yang 21 tahun lebih tua.
Ibunya selalu ingin hidup sebagai bangsawan kelas atas, sehingga ia membutuhkan anak laki-laki demi melancarkan rencananya tersebut. Karena Sophie terlahir sebagai anak perempuan, maka ia sering ditelantarkan bahkan mendapat perlakuan dan ucapan negatif dari sang ibu. Padahal, Sophie adalah anak yang cerdas dan kritis, sebab pengasuhnya memperkenalkan Sophie dengan buku-buku pengetahuan serta bahasa Prancis.
Perjalanan Sophie Menuju Istana dan Mulai Berganti Nama
Sang ibu yang selalu sibuk dengan adik laki-lakinya yang sering sakit-sakitan, akhirnya mulai menatap Sophie setelah adiknya meninggal tahun 1742 saat berusia 13 tahun. Ibunya ingin Sophie segera menikah, sehingga ia berusaha mengirim surat dan mengunjungi saudaranya.
Suatu hari, datang surat balasan dari Elizabeth of Russia, seorang kaisar perempuan Rusia yang menikah dengan keluarga Holstein, keluarga sang ibu. Elizabeth adalah bibi Peter Ulrich (cucu Peter The Great), yang kemudian menjadi ibu angkat Peter.
Dalam suratnya, Elizabeth meminta Sophie dan ibunya segera datang ke Rusia. Tentunya, Sophie mendapat sambutan yang baik di Moskow dan bertemu Peter Ulrich untuk pertama kalinya. Namun, dari hari ke hari, Sophie menyadari bahwa Peter memiliki kepribadian kasar, tidak memahami bahasa Rusia, tidak peduli dengan tahtanya sebagai penerus, bahkan mengatakan tidak mencintai Sophie.
Dari situlah, Sophie segera belajar bahasa Rusia serta mempelajari kepercayaan yang mereka anut, yaitu Ortodoks. Hal ini membuat Sophie semakin menyukai Rusia dan bertekad meninggalkan Lutheran. Kemudian, ia pun berganti nama menjadi Ekaterina yang dalam bahasa Inggris berarti ‘Catherine’.
Terpaksa Menjalani Pernikahan yang Bukan Kehendaknya
Sambil menghitung hari menuju pernikahannya, Catherine menghabiskan waktu dengan berkunjung ke pesta dansa. Tiba-tiba Peter Ulrich malah sakit cacar, sehingga bibinya bertekad untuk mempercepat pernikahan setelah Peter sembuh.
Pernikahan ini memang membuat Catherine lepas dari ibunya. Tetapi, penderitaan baru muncul karena Peter sama sekali tidak peduli dengan dirinya. Ia malah asik bermain seperti bocah yang berlangsung selama 7 tahun lamanya. Hingga akhirnya Catherine bertemu dengan seorang perwira militer dan mengandung seorang putra yang ia beri nama Paul. Namun, para ahli sejarah berpendapat bahwa Paul bukan keturunan sah.
Pasca Elizabeth The Great meninggal, Peter mulai menduduki kursi kekaisaran menjadi Peter III pada tahun 1762. Sayangnya, Peter bukanlah pemimpin yang baik bagi Rusia, sehingga banyak yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Catherine Berhasil Menggulingkan Kekuasaan Sang Suami
Catherine memiliki ambisi untuk mengambil alih kekuasaan Peter. Ia mulai mencari dukungan dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintahan, petinggi militer hingga kaum aristokrat.
Memasuki tanggal 9 Juli 1762, Catherine memimpin unjuk rasa ke St.Petersburg sekaligus memproklamirkan diri sebagai Tsarina (kaisar wanita Rusia) dan otokrat Katedral Kazan. Akhirnya, Peter berhasil turun tahta dan meninggal 8 hari kemudian karena dibunuh oleh Alexei Orlov, salah satu pendukungnya. Meskipun Catherine tidak menginginkan orang-orang melakukan pembunuhan itu, tetapi semuanya telah terjadi. Sehingga, opini publik menyatakan bahwa ia harus bertanggung jawab atas kematian Peter.
Catherine pun mulai mengenakan mahkota dengan upacara besar pada bulan September 1762 di Moskow. Pemerintahannya berlangsung selama 34 tahun sebagai kaisar perempuan Rusia dengan gelar Catherine The Great atau Catherine II.
Pengaruh Besar Catherine The Great Bagi Kekaisaran Rusia
Selama pemerintahannya, Catherine The Great memulai era netralitas, dimana pemerintahan Rusia tidak memihak negara manapun selama Seven Years War. Era pemerintahannya pun terkenal sebagai zaman keemasan alias Pencerahan Rusia.
Ia berhasil meningkatkan perdagangan internasional, mempromosikan pendidikan, seni hingga upaya diplomasi Rusia yang progresif. Pada masanya, Catherine The Great sangat dicintai rakyatnya karena mampu memperkuat dan meningkatkan budaya Rusia. Bahkan, secara signifikan ia berhasil memperluas wilayah Rusia. Tak heran, hingga saat ini dirinya selalu menjadi kebanggan bagi warga Rusia.
Catherine The Great menghembuskan napas terakhirnya karena stroke setelah pingsan dari dalam kamar mandi. Ia wafat pada tanggal 17 November 1769, selama 6 minggu jenazahnya dipajang depan umum dan publik masih berduka selama 6 bulan ke depan.

